CRT Berbahaya? Ini Pendapat Jorge Lorenzo dan Bos Honda!

Jorge Lorenzo mengaku terkejut atas catatan waktu yang dicetak oleh motor CRT nan lamban yang melakukan tes pra musim pertama MotoGP bersama tim pabrikan di Sirkuit Sepang, Malaysia pada 31 Januari-2 Februari yang lalu.

Pembalap yang menaiki CRT tercepat saat itu adalah Colin Edwards. Menggunakan Suter-BMW, Texas Tornado terpaut lima detik dari Casey Stoner yang menjadi pace-setter. Tak hanya Tim CRT Forward Racing yang berkesempatan melakukan uji coba di Sepang, tim BQR (Avintia Racing) juga turut menguji coba Kawasaki ZX-10R. Melalui tiga pembalapnya yang terdiri dari Ivan Silva, Robertino Pietri (wild-card rider) dan Jordi Torres (test-rider), BQR berselisih 8.618, 10.033, dan 10.577 detik lebih lambat dari Stoner.

Walaupun CRT memiliki banyak potensi dan kecepatannya dapat ditingkatkan seiring dengan pengembangan yang dilakukan secara bertahap, namun kehadiran mereka dalam gerbang era 1000cc sudah memunculkan berbagai macam kekhawatiran. Bukan hanya dari sisi hiburan dimana CRT kesulitan untuk bersaing dengan motor prototype yang bisa menciptakan pertunjukan yang membosankan, tetapi juga memicu rasa was-was dari segi keamanannya.

Selisih waktu yang lebar antara CRT dan prototype diyakini akan menimbulkan marabahaya baik saat para pembalap menjalani sesi latihan bebas, kualifikasi maupun balapan. Jorge Lorenzo menjadi salah satu pembalap yang merasa cemas akan bahaya yang mengintai dari adanya CRT yang dinilainya terlalu lamban. Juara dunia MotoGP 2010 tersebut mengatakan: ”Saya sungguh terkejut karena saya pikr gapnya akan lebih sedikit. Ini bisa membahayakan. Saat itu saya sedang mencatatakan waktu di dekat Colin, yang merupakan pembalap CRT tercepat di sini (Sepang), dan dia terlihat seperti berlaga di kategori lain jika dibandingkan dengan (kecepatan normal) di MotoGP.”

Sementara itu bos Honda, Livio Suppo menuding adanya kemungkinan engine-failure dari motor CRT yang dijalankan oleh tim dan pembalap yang kurang berpengalaman. Menurutnya, kinerja tim dan rider yang demikian akan membahayakan pembalap lain yang melaju lebih kencang saat berada di atas trek yang sama.

Livio Suppo menjelaskan: “Saya pikir kita perlu memastikan kalau tim yang akan bergabung ke dalam kejuaraan merupakan tim yang cukup bagus untuk manjamin mesin-mesin yang dipakai sudah teruji. Karena kerusakan mesin selama latihan dan balapan bisa membahayakan, ini kalau ditinjau dari sisi teknisnya. Saya tidak berpikir kalau mesin yang bisa menghasilkan kecepatan dua atau tiga detik lebih lambat akan membahayakan.

“Masalah yang kedua ialah pembalapnya, Para pembalap harus mempunyai cukup pengalaman. Hal itu sangat penting. Saya pikir kita harus memperhatikannya, karena jika kita melihat beberapa pembalap yang terlalu lambat dari pembalap tercepat, ataupun pembalap yang tak mempunyai pengalaman yang mumpuni, jika pembalap tersebut berada di atas trek, kemudian jika pembalap yang super cepat menyalipnya, maka dia harus tahu apa yang harus dilakukan. Jadi itu menjadi sebuah masalah lain, tapi semoga saja hal itu bisa diatur. Sulit untuk mengatakannya sekarang.”